Masyarakat Ekonomi Asean
Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) dan Pengaruh di Dunia Pendidikan Indonesia
Dewasa ini MEA menjadi
perbincangan topik hangat dikalangan masyarakat, lebih dari satu dekade lalu,
para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara
pada akhir 2015. Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa
menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing
di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan
meningkatkan kesejahteraan. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual
barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara
sehingga kompetisi akan semakin ketat. Dengan begitu akan membuat perekonomian
masyarakat Asia menjadi lebih stabil, makmur, serta dalam pembangunan
ekonominya mempunyai sifat yang kompetitif. Tujuan diadakannya MEA (Masyarakat
Ekonomi Asia) adalah agar setiap kawasan Asia dapat meningkatkan stabilitasnya
dari segi bidang perekonomian dan berharap dapat mengatasi berbagai macam
masalah yang berkaitan dengan perekonomian diwilayah Asia tersebut.
Bagaimana
persiapan generasi muda kita dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
dan tantangan bonus demography? Masih banyak pertanyaan yang menggantung di
benak kita, yang sampai hari ini belum terjawab tuntas. Akar permasalahan
pendidikan Indonesia seolah-olah terus menjadi status quo, berputar-putar dan tidak
menemukan titik kejelasan. Seperti mengurai benang kusut.
Penyebab
rendahnya kualitas pendidikan kita mesti dilihat satu-satu, yang paling urgen
untuk dijadikan skala prioritas adalah kualitas guru kita . Mengapa guru? Semua
tahu, semua mahfum, guru adalah ujung tombak pendidikan. Dalam perkembangan
dunia yang begitu cepat, adalah hal yang mutlak untuk guru berevolusi menjadi “
future teacher”, guru yang mumpuni , punya daya saing global dan punya mindset
internasional. Sudah sepuluh tahun pemerintah menggulirkan program sertifikasi
guru dan dosen . Program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan guru dan
dosen ini adalah upaya panjang yang dilakukan pemerintah yang diharapkan juga
berimplikasi positif dalam peningkatan mutu pendidikan kita.
Memang
akan tidak adil kalau menilai hasil sertifikasi dalam kurun waktu singkat
sekarang ini namun ada indikasi bahwa proses dan tujuan sertifikasi mengalami
degradasi. Kalau awalnya tujuan sertifikasi adalah untuk mensejahterahkan para
guru dan meningkatkan mutu pendidikan maka nampaknya yang tercapai hanyalah
indikator pertama yaitu peningkatan kesejahteraan para pendidik itu. Namun
implikasi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia patut dipertanyakan.
Ini
yang terjadi dilapangan, para guru berebut jam mengajar. Tidak jarang terjadi
konflik di sekolah karena hal ini. Mereka berlomba-lomba mencapai jam maksimal
yang disyaratkan sertifikasi dan tidak lagi memperdulikan kualitas dan mutu
mengajar. Idealnya, dana sertifikasi tidak hanya dipakai untuk memperbaiki
kualitas kehidupan jasmani namun juga ada kesadaran untuk mencerdaskan diri.
Masalah
lain di bidang pendidikan yang tidak kalah krusialnya adalah adalah kesiapan
kita menghadapi MEA. Mengapa pendidikan kita dikaitkan dengan kesiapan memasuki
MEA? MEA adalah sebuah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan
bebas antarnegara-negara ASEAN. Seluruh negara anggota ASEAN telah menyepakati
perjanjian ini. MEA dirancang untuk mewujudkan wawasan ASEAN 2020. Dalam
menghadapi persaingan ketat selama MEA ini, negara-negara ASEAN haruslah
mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) terampil, cerdas, dan kompetitif. MEA
adalah liberalisisi di semua aspek kehidupan. Tanpa kemampuan memadai
menghadapi hal ini maka kita hanyalah akan menjadi penonton, bukan pelaku di
era MEA. Apakah kita akan menambah daftar panjang cerita miris TKI luar negeri
yang jadi babu di negara orang? Dan adanya MEA, cerita miris itu akan kita
pindahkan ke dalam negeri.
Pekerja
asing berkualitas tinggi akan membanjiri Indonesia. Kabar terbaru, ada 12 ribu
pekerja Cina membanjiri Indonesia. Pekerja Indonesia yang tidak berkualitas
akan tergusur dinegeri sendiri. Masalah daya saing tenaga kerja kita semakin
rumit ketika penguasaan teknologi lulusan lembaga pendidikan kita masih jauh
dari harapan. Liberalisasi global menyebabkan kemajuan teknologi juga melibas
habis usaha tradisional di Indonesia, contoh kecil saja kasus taksi uber. Taksi
tradisional di prediksi bangkrut, aplikasi modern jadi penyebabnya. Orang–orang
pintar pendiri taksi uber, masuk di negara mana saja dengan memanfaatkan para
pemilik kendaraan pribadi untuk direkrut menjadi sopirnya. Pesan antar pun
hanya dilakukan melalui HP dan aplikasi. Pemerintah juga tidak punya alasan
melarang taksi ini beroperasi.
Ini
contoh kecil betapa teknologi akan melibas yang tradisional jika kita tidak
punya kualitas setara itu untuk membendungnya. Ujung–ujungnya hanya akan jadi
tenaga kasar, perlu kemauan keras untuk mempersiapkan hal itu dimana sejak awal
penulis telah menyinggung bahwa kata kuncinya adalah pendidikan.
Aspek
ketiga yang harus segera dituntaskan masalah pendidikan kita dalam menghadapi
MEA dan tantangan bonus demography adalah adalah kurikulum yang selalu
berganti. Kurikulum yang dipakai saat ini tidak seragam. Ada yang memakai KTSP
dan sebagian lagi memakai kurikulum 2013. Sudah begitu banyak dana yang
digelontorkan untuk kurikulum 2013 ini di zaman pemerintahan SBY yang kala itu
Mendiknasnya dijabat Prof DR M. Nuh. Namun ketika menteri digantikan Menteri
Anies Baswedan, kembali lagi ke kurikulum KTSP dengan alasan banyak sekolah
yang belum siap melaksanakan. Jika alasan itu yang dipakai mengapa ada sekolah
yang dibolehkan?
Meskipun
alasanya bahwa sekolah itu adalah pilot project K 2013, namun, demi menghindari
kebingungan harusnya kurikulum yang dipakai seragam. Apakah memang pameo yang
mengatakan bahwa ganti menteri ganti kurikulum memang benar adanya? Mengapa
kurikulum kita selalu saja berganti? Seolah –olah Indonesia tidak punya blue
print pendidikan, apa yang mau dilakukan, dan apa yang hendak dicapai.
Mari
berkaca dengan negara tetangga semisal Singapura dan Malaysia. Survey yang
dilakukan PISA untuk mengetahui kemampuan menulis, membaca dan sains anak
sekolah menengah, anak Indonesia selalu berada di urutan terbawah jika dibandingkan
dua negara jiran itu. Mereka memiliki kurikulum jangka panjang yang jelas. Apa
yang hendak dicapai, apa yang harus dilakukan , tepat sasaran dan bisa diukur.
Keunggulan lain dari kurikulum kedua negara itu disamping tidak gampang berubah
adalah skill yang diperlukan untuk menghadapi era globalisasi termuat gamblang
dalam kurikulum mereka. Sehingga tamatan atau lulusan sekolah–sekolah di kedua
negara itu lebih mampu menghadapi persaingan global.
Dan tantangan terakhir yang dihadapi
pendidikan kita adalah masalah menghadapi bonus demografi (demograpfic deviden)
yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020-2030 nanti. Bonus demografi
adalah bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi
penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang
dialaminya. Bonus demografi ini hanya terjadi sekali dalam kurun waktu yang
sangat lama dan akan berlangsung dalam waktu yang cukup singkat.
Oleh
karena itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Momentum ini mau tidak mau harus
diupayakan sedemikian rupa agar dapat membawa dampak positif bagi bangsa
Indonesia. Seperti kata Presiden Joko Widodo, bonus demografi bagaikan dua sisi
pedang, yang satu bisa jadi menguntungkan dan satunya lagi kalau tidak
dipersiapkan boleh jadi akan memukul balik kita.
Angkatan
kerja dalam jumlah besar sedang tumbuh di Indonesia. Bagaimana seandainya,
bonus demografinya adalah angkatan kerja yang miskin skill dan rendah
pendidikan? Maka bisa diramalkan bonus demografi adalah ibarat gunung es, tidak
terlihat dari luar namun menjanjikan petaka yang dahsyat. Dengan semua
tantangan diatas, sudah saatnya kementerian yang mengurusi pendidikan membuat
blue print jelas tentang arah pendidikan kita. Apa yang mesti dilakukan saat
ini semestinya sudah dipetakan. Karena MEA akan berlaku kurang dari tiga bulan
lagi, tepatnya Desember 2015.
leska
BalasHapus