Pengaruh Budaya Asing Di Indonesia



JUNK FOOD SIMBOL AMERIKANISASI EFEK GLOBALISASI
            Globalisasi merupakan fenomena yang memberikan pengaruh kepada hampir seluruh penduduk didunia dan bahkan Indonesia salah satu negara yang merasakan langsung dampak baik maupun buruknya. Namun semakin kita menikmati fenomena globalisasi ini permasalahan baru pun muncul sebagai contohnya yaitu semakin punah identitas nasional dan terkikisnya budaya lokal Indonesia. Hal ini memberikan ancaman besar karena masuknya produk-produk Barat khususnya Amerika kedalam ruang lingkup Indonesia. Akibatnya produk-produk dalam negeri dapat kalah bersaing dan terancam hilang.
Kemudian muncul istilah Amerikanisasi yaitu sebutan pengaruh yang dimiliki Amerika Serikat di negara lain, contohnya budaya masyarakat, masakan, teknologi, praktik bisnis, atau teknik politiknya. fenomena globalisasi yang saat ini terjadi sering dikaitkan dengan bentukan dan hasil dari imperialisme Amerika. Yang mana dampaknya telah masuk kedalam segala kehidupan. Segala nilai-nilai yang dianut Amerika, ikut dibawa dan disebarkan melalui globalalisasi. Sehingga masuknya paham dan produk-produk Amerika ini dikhawatirkan dapat menggerus bahkan melenyapkan budaya lokal dan identitas negara-negara lain. Makanan cepat saji juga sering dianggap sebagai simbol dominasi pemasaran Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan seperti Starbucks, Coca-cola, McDonald’s, Burger King, Pizza Hut, KFC, dan Domino’s Pizza memiliki banyak cabang di seluruh dunia.
Di Indonesia cabang perusahaan Amerika ini bertebaran dimana-mana, proses perubahan dan fenomena globalisasi yang merambah ke berbagai penjuru dunia dianggap sebagai proses McDonalisasi. Kehadiran McDonald merupakan tonggak lahirnya sebuah proses dimana berbagai prinsip restoran fast food hadir untuk mendominasi lebih banyak sektor kehidupan di berbagai negara manapun di dunia termasuk Indonesia. Cara kerja sebagaimana diterapkan restoran cepat saji McDonald yang menekankan pada efisiensi, kemudahan diperhitungkan, kemudahan diprediksi, kontrol melalui teknologi, dan bukan saja kemudian diterapkan dalam proses pengelolaan berbagai jenis usaha yang lain, tetapi juga memengaruhi aktivitas dan perilaku sosial masyarakat.
Lihat saja, ketika pemerintah memutuskan memprivatisasi sejumlah perusahaan milik negara. Lantaran ingin cepat mendapatkan duit cash, pemerintah tak berpikir untuk mempertahankan dan memperbaiki kinerja perusahaan sehingga tetap menjadi perusahaan kebanggaan bangsa.
Cukup rasional memang karena pemerintah perlu dana untuk menambah kekurangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Tetapi sebenarnya dampak yang terjadi adalah irasional karena selain akan terjadi pemutusan hubungan kerja, pemerinatah secara otomatis akan kehilangan kendali dan kontrol atas perusahaan itu untuk selamanya.Gelombang McDonaldisasi juga merambah ke keluarga. Definisi rumah kini sudah berubah bukan tempat bercengkrama atau berkumpul keluarga, melainkan hanya sekadar tempat transit. Masyarakat lebih banyak beraktivitas di luar rumah termasuk dalam urusan mengisi perut. Daripada susah-susah masak, masyarakat perkotaan lebih mudah membeli makanan jadi atau instan. Selain lebih praktis juga banyak pilihan, kendati porsinya dibatasi. Acara ulang tahun anak pun tak lagi di rumah tetapi di restoran-restoran cepat saji atau fast food.
Prinsip-prinsip dalam McDonaldisasi itu sebenarnya adalah komponen dasar dari sistem masyarakat modern. Prinsip-prinsip itu sebenarnya rasional namun dalam ruang praksis malah memperlihatkan irasionalitas. Pengaruh negatif McDonaldisasi tidak dapat ditumpas habis, melainkan hanya dapat dikurangi. Cara terbaik, tiada lain adalah mengoptimalkan pengaruh positif McDonaldisasi sehingga akan menciptakan dunia yang lebih manusiawi. Indonesia lebih banyak mendapatkan dampak negatif daripada positifnya dari beredarnya cabang perusahaan fast food asal Amerika itu, malah membuat keuntungan besar untuk pihak Amerika dalam bidang ekonomi. Bahkan bahan baku yang digunakan untuk mengelola perusahaan produk ini adalah kebanyakan dari dalam negeri dan tenaga kerja yang digunakan untuk mengelola operasi perusahaan untuk menghasilkan produk ini adalah mayoritas warga Indonesia. Namun Resiko ekonomi yang ditimbulkan dari boikot ini dari sisi pemerintah adalah berkurangnya pendapatan pemerintah dari pajak perusahaan dan bertambahnya pengangguran.
Pengaruh globalisasi sejatinya memang penuh dengan pro dan kontra dan tidak sepenuhnya dikareanakan oleh Amerikanisasi. Namun, yang paling berperan dalam globalisasi budaya adalah pilihan-pilihan yang diambil oleh masyarakat itu sendiri. Masyarakat memang merupakan aktor utama dalam semakin majunya budaya lokal atau malah memundurkan budaya lokal miliknya. Seperti contohnya di era Globalisasi, Korea Selatan, Jepang, dan India masih sangat kuat mempromosikan dan mempertahankan budaya lokalnya. Hingga budaya-budayanya dikenal oleh seluruh penduduk dunia. Meskipun penduduk-penduduknya menggunakan produk-produk buatan negara Barat. Dilain pihak, budaya-budaya indonesia nyatanya memang tergerus arus globalisasi, contohnya saja permainan tradisional Indonesia seperti congklak, bekel, dan lainnya yang saat ini semakin langka ditemukan dikalangan anak-anak. Nasionalisme yang berkurang tidaklah menjadi persoalan utama. Nasionalisme yang dimiliki setiap bangsa adalah sangat penting. Mengingat sebuah bangsa terbentuk akibat adanya ikatan emosional yang sama atas perasaan senasib dan sepenanggungan yang tertuang dalam nasionalisme. Jika nasionalisme ini memudar, masyarakat dapat dengan mudah terbawa arus yang mengakibatkan hilangnya identitas dirinya sebagai penduduk suatu negara. Meskipun globalisasi membawa efek yang positif bagi setiap orang dengan berbagai kemudahan yang dibawanya, nyatanya tidak semua orang dapat merasakan efek positif dari globalisasi. Globalisasi sudah selayaknya ditanggapi secara bijak. Karena tidak dapat dipungkiri, setiap orang secara sadar dan tidak sudah terbawa perkembangan zaman. Tidak dapat pula dikatakan orang tersebut memiliki rasa nasionalisme yang rendah jika menyukai dan menggunakan produk-produk Amerika dan juga negara Barat. Nasionalisme tidak dapat diukur melalu referensi pilihan produk masyarakatnya. Namun disatu sisi, dengan adanya globalisasi produk-produk lokal dapat terpicu untuk semakin menggiatkan dan meningkatkan kualitas produknya sehingga paling tidak dapat merajai pasar dalam negerinya. Menghidupkan kembali industri substitusi impor guna mengurangi ketergantungan dari produk impor dan menyediakan produk dalam negeri dengan mengoptimalkan SDM dan SDA yang dimiliki orang Indonesia untuk membuka usaha kecil dan menengah guna meningkatkan sector rill.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Story Telling Jayaprana and Layonsari

Ulasan Mobile Legend : Bang bang

Sejarah Perkembangan Sosiologi di Indonesia